Tak ada yang tahu kapan cinta akan datang mengetuk hati. Kadang ia hadir begitu saja, tanpa aba-aba, hanya lewat satu tatapan yang tiba-tiba membuat dunia terasa berhenti berputar. Begitulah kisah Rinaldo Muhammad Rizal atau Edo, ketika pertama kali melihat sosok Lolita Pri Ayuningsih. Siapa sangka, pertemuan yang seolah kebetulan di hari Jumat penuh berkah itu justru menjadi awal kisah cinta yang berlabuh di pelaminan.
Pertemuan tak terduga itu terjadi pada Jumat, 28 Februari 2025. Siang itu, Edo tengah bergegas menuju masjid untuk menunaikan sholat Jumat. Namun langkahnya mendadak terhenti ketika matanya menangkap sosok wanita yang berjalan tergesa menuju toko roti di samping kantornya. Meski sebagian wajah wanita itu tertutup helm, ada pesona lembut yang seolah menahan langkah Edo di tempat. Sekejap mata, hatinya bergetar, ada sebuah rasa yang tak ia pahami, tapi meninggalkan kesan mendalam sejak pandangan pertama.
“Saat itu Lolita buru-buru masuk ke toko. Wajahnya masih tertutup helm, tapi entah kenapa saya langsung penasaran ingin tahu siapa dia,” kenangnya sambil tersenyum.
Sejak tatapan singkat itu, rasa penasaran Edo terus membesar. Ia ingin berkenalan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Hingga akhirnya, ide konyol muncul di kepalanya untuk mengajak office boy (OB) kantornya, menemaninya membeli es krim di toko yang dijaga Lolita. Misinya semata-mata untuk melihat Lolita lebih dekat sambil menyelipkan ‘perintah rahasia’ kepada OB untuk membantu Edo mendapatkan nomor WhatsApp Lolita.
“Usai sholat Jumat, saya ajak OB beli es krim di toko itu, biar sekalian lihat dia. Siapa tahu bisa minta nomor WhatsApp-nya,” ujarnya sambil tertawa.
Di stan es krim, Edo dan OB pura-pura bingung memilih rasa, tapi pandangan Edo tak pernah lepas dari Lolita. Dengan sabar, Lolita menjelaskan satu per satu pilihan, senyumnya yang lembut dan cara bicaranya membuat Edo terpesona, seolah waktu berhenti sesaat. Sayangnya, keberanian untuk meminta nomor ponsel Lolita tak kunjung datang. Akhirnya, mereka pulang ke kantor dengan tangan menenteng plastik es krim dan sedikit penyesalan di hati.
“Kami tak berani meminta nomor WhatsApp-nya,” kata Edo sambil mengenang momen pertama yang canggung tapi manis itu.
Meskipun percobaan pertama untuk mendapatkan nomor WhatsApp Lolita gagal, Edo tak lantas menyerah. Suatu malam, saat usai olahraga bulutangkis dengan teman-temannya, ia tak bisa menahan diri untuk bercerita tentang gadis di toko roti yang selalu membuat hatinya penasaran. Salah seorang temannya memberi saran, “Coba tanya sekuriti toko itu, siapa tahu dia bisa kasih info,” katanya sambil tertawa.
Keesokan harinya, Edo pun mengikuti saran itu. Ia menemui sekuriti toko dan menjelaskan maksudnya, berharap bisa mendapatkan nomor Lolita. Karena tak yakin wanita mana dimaksud Edo, lantas Sekuriti itu memberikan tiga nomor WhatsApp karyawati di toko tersebut, salah satunya milik Lolita. Namun Edo sempat ragu karena foto profil yang terlihat tidak memakai jilbab, padahal Lolita biasanya mengenakannya. Meski begitu, sekuriti meyakinkan bahwa salah satu nomor itu benar milik Lolita. Edo pun memutuskan menelusuri lebih lanjut.
Walaupun kini memiliki nomor WhatsApp Lolita, Edo masih belum berani menghubunginya. Ia pun mencari cara lain agar bisa terhubung. Sedikit menjadi “detektif digital”, Edo akhirnya menemukan akun Instagram Lolita. Dengan jantung berdebar, ia memberanikan diri mengirimkan Direct Message (DM) untuk berkenalan. “Mungkin karena kesibukannya bekerja, nyaris tengah malam, Lolita baru bisa membalas DM saya,” kenang Edo sambil tersenyum.
Setelah pesannya dibalas, percakapan antara Edo dan Lolita pun mulai terjalin. Obrolan mereka mengalir ringan, hangat, lucu, dan sedikit menggelitik seperti awal kisah cinta yang manis dan penuh rasa penasaran.
Seiring waktu, kedekatan di antara mereka semakin terasa nyata. Setelah Lolita memberikan nomor WhatsApp-nya, komunikasi mereka pun makin intens. Setiap hari ada saja pesan singkat yang membuat hari-hari Edo terasa berbeda. Kadang, di sela jam kerja, Edo sengaja menyempatkan diri singgah ke toko tempat Lolita bekerja yang kebetulan letaknya persis di sebelah kantornya.
Interaksi sederhana itu perlahan menumbuhkan chemistry yang manis. Dari sapaan singkat dan tawa ringan, tumbuhlah perasaan hangat yang tak bisa mereka jelaskan. Seolah-olah, benih cinta mulai bersemi tanpa mereka sadari.
Seminggu kemudian, Edo memberanikan diri mengajak Lolita makan malam di sebuah rumah makan siap saji di kawasan SM Raja, Medan. Suasana malam itu dipenuhi tawa ringan Lolita dan senyum manisnya yang membuat Edo merasa bahagia sepanjang malam. Namun, meski hati sudah berdebar-debar, Edo masih belum cukup berani untuk mengungkapkan perasaannya.
“Saat itu saya belum berani ‘nembak’ dia, kami masih berteman saja,” kenangnya sambil tersenyum tipis.

Ungkapkan Rasa Cinta
Tak ingin menunda lebih lama, Edo kembali membuat janji untuk bertemu. Kali ini mereka menyempatkan diri berfoto bersama di sebuah studio foto, mengabadikan momen-momen indah yang akan menjadi kenangan manis di masa depan. Setelah sesi foto, Edo mengajak Lolita makan lagi sebelum akhirnya mengantarnya pulang ke rumah.
Di rumah Lolita, Edo berkesempatan bertemu dengan neneknya. Suasana hangat tercipta begitu mereka menyapa dan berbincang, membuat Edo merasa nyaman dan akrab. Saat mereka akhirnya bisa berbicara berdua, momen itu menjadi kesempatan sempurna bagi Edo untuk berbicara dari hati ke hati. Di tengah percakapan, Edo akhirnya memberanikan diri menyatakan perasaannya.
“Aku mencintaimu. Apakah mau menerima aku?” tanyanya dengan suara mantap malam itu.
Tak hanya sekadar ungkapan cinta, Edo juga menegaskan keseriusannya. Ia ingin membangun hubungan yang serius dan tak ingin menyia-nyiakan Lolita. “Saat itu saya bilang sama Lolita, kalau saya ingin serius, bukan main-main. Saya suka dengan karakter Lolita yang penyabar dan lembut,” tambahnya,
Edo merasa mantap dengan pilihannya, Lolita adalah wanita yang cocok dengan dirinya. Penyanyang, lembut meskipun Lolita terkadang terkesan gegabah mengambil sebuah keputusan tanpa pikir panjang. Namun dengan kelebihan dan kekurangan mereka miliki, Edo justru yakin keduanya dapat menutup dan mengisi satu sama lain untuk menjadi lebih baik.
Mendengar pernyataan tulus dari Edo, hati Lolita akhirnya luluh. Ia melihat sosok Edo bukan hanya sebagai pria yang gigih memperjuangkan cintanya, tapi juga sebagai lelaki penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
“Karena saya lihat dia orangnya serius, bertanggung jawab dan penyayang, makanya saya menerima cintanya. Saya yakin Edo akan menepati janjinya,” ujar Lolita sambil tersenyum, mengenang momen manis itu.
Awalnya, Lolita sempat mengira Edo hanyalah pria iseng yang biasanya ‘modus’ untuk mencari perhatian. Namun seiring waktu, keseriusan dan ketulusan Edo dalam mendekatinya perlahan mengikis keraguan itu. Dari sekadar teman yang sering bertukar kabar, hubungan mereka pun tumbuh menjadi kisah cinta yang hangat.
Selama satu tahun menjalani masa pacaran, Lolita semakin mengenal sosok Edo tentang kelebihan, kekurangan, bahkan kebiasaannya yang terkadang membuat gemas. “Awalnya kami hanya berteman, tapi setelah sering bertemu dan berpacaran selama satu tahun, saya mulai mengenal Edo lebih dalam,” ungkap Lolita dengan senyum lembut.
Menurutnya, Edo adalah pria yang bertanggung jawab, penyayang, meski kadang sedikit egois, sifat yang justru membuatnya terasa manusiawi. Di hati kecilnya, Lolita tahu, ia membutuhkan sosok seperti Edo yang bisa membimbing dan menenangkannya kelak.
“Insya Allah, Edo menjadi imam yang baik bagi keluarga kami”, harap Lolita

Lamaran dan Tantangan Menuju Akad
Tepat pada 20 Agustus 2025, Edo datang ke rumah Lolita bersama keluarganya untuk melamar. Hari itu, suasana dipenuhi senyum dan haru. Kedua keluarga tampak bahagia, seolah meneguhkan restu yang telah lama terucap. Bagi Edo dan Lolita, hari itu menjadi langkah pasti menuju kehidupan baru bersama.
Tanggal pernikahan pun disepakati yakni pada Minggu, 2 November 2025. Namun di balik kebahagiaan itu, ada pula rasa cemas yang tak bisa disembunyikan. Akankah semua berjalan lancar? Akankah cinta mereka tetap kuat menghadapi ujian menjelang hari bahagia?
Untuk menjaga komunikasi tetap transparan, Edo dan Lolita sepakat menggunakan satu akun WhatsApp bersama, yang dapat diakses dari perangkat masing-masing. Dengan cara ini, keduanya bisa memantau percakapan dan aktivitas chat secara real-time, sebagai bentuk “proteksi cinta” untuk mencegah kesalahpahaman atau miskomunikasi menjelang hari pernikahan.
Namun, seperti kisah cinta pada umumnya, masa itu tak selalu mulus. Rasa panik dan tegang sempat muncul, memicu miskomunikasi kecil yang membuat mereka berhenti berkomunikasi selama dua hari. Tapi cinta yang tulus selalu menemukan jalan pulang. Perlahan, Edo dan Lolita menurunkan ego masing-masing, saling memaafkan, dan akhirnya kembali tertawa bersama sehingga membuat mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya.
“Dua minggu sebelum pernikahan, kami sempat dilanda rasa panik dan sering miskomunikasi karena saling bersilang pendapat. Bahkan sampai tidak saling menghubungi, tapi akhirnya kami bisa berdamai kembali,” kenang Edo.
Akhirnya, semua perjuangan, doa, dan momen canggung yang pernah mereka lewati terbayar lunas. Di hadapan tuan kadi, dengan suara bergetar namun mantap, Edo mengucapkan ijab kabul, menandai resminya ia menjadi suami Lolita, wanita yang kini menjadi tempat hatinya berlabuh sekaligus menjadi ‘rumah’ bagi setiap kisah cinta yang akan mereka tulis bersama.
Di tengah senyum keluarga dan haru sahabat, Edo dan Lolita memulai babak baru dalam kisah cinta mereka. Dari pandangan pertama yang singkat, perjalanan cinta mereka kini berlabuh indah di pelaminan. Semoga manis dan pahitnya kehidupan rumah tangga dapat mereka jalani dengan penuh cinta, pengertian, dan kesabaran. *Becks