Pertentangan itu membuat Riza merasa buntu hingga sempat meninggalkan rumah. Namun, berkat bujukan dan kasih sayang sang ibu, ia akhirnya memilih bertahan dan menuruti keinginan ayahnya untuk bekerja di kantor pos sambil tetap menjalani bisnis warnet.
Dua tahun berlalu, panggilan jiwanya sebagai pengusaha kian menguat. Ia pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan tetapnya dan kembali menekuni dunia bisnis, dunia yang membuatnya merasa lebih hidup.
Setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya pada tahun 2005, Riza mulai fokus dengan usaha warnetnya. Bisnis yang mereka rintis berkembang cukup pesat hingga kemudian Riza memperluas jangkauannya ke daerah Batubara, kawasan pinggiran yang saat itu masih minim akses internet.
Tantangan di sana jauh lebih besar, mulai dari infrastruktur yang terbatas hingga kesadaran masyarakat akan teknologi yang rendah, membuat riza harus berfikir keras. Namun, bagi Riza, risiko itu justru menjadi kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat dan berkelanjutan.
Ditengah kesibukannya merintas usaha warnet di Batubara, tak lantas membuatnya berhenti berinovasi. Dengan modal usaha yang dimilikinya, ia mencoba peruntungan baru di dunia kontraktor. Awal kariernya di bidang ini berjalan cukup mulus. Berbagai proyek mulai ia tangani, baik dari pemerintah kabupaten Batubara maupun pihak swasta lainnya. Riza bahkan menyebut dirinya saat itu sebagai kontraktor “palugada” — apa pun yang diminta, semua ada, asal menghasilkan.