Meski begitu, naluri bisnis yang sudah tertanam kuat dalam dirinya tak bisa begitu saja padam. Ketika melihat tren warung internet (warnet) yang tengah populer, Riza kembali menangkap peluang baru. Ia mengajak seorang temannya untuk membuka usaha warnet di Medan.
Berkat tangan dinginya dalam mengelola bisnis, usaha warnet itu berkembang dengan baik. Hari-hari Riza pun dipenuhi semangat, membagi waktu antara kuliah dan berwirausaha, hingga akhirnya ia berhasil menamatkan pendidikannya.
Pertarungan Antara Cita-cita dan Harapan Orang Tua
Setelah menyelesaikan studinya, semangat wirausaha Riza kembali menyala. Ia mulai menyusun berbagai rencana untuk membangun bisnis baru yang lebih serius dan berkelanjutan. Namun, perjalanan hidup tak selalu berjalan sesuai harapan.
Sang ayah justru menginginkan Riza menempuh jalan yang dianggap lebih “aman” bekerja sebagai karyawan di PT Pos Indonesia. Keinginan itu berseberangan dengan jiwanya yang sejak awal tertarik pada dunia bisnis dan kebebasan dalam membangun sesuatu atas dasar ide dan kerja keras sendiri.
Perbedaan pandangan pun tak terelakkan. Riza bersikeras ingin mandiri dan yakin bisa meniti jalan sukses melalui bisnis. “Saya sempat frustrasi. Rasanya seperti terpenjara. Saya ingin berbisnis, tapi harus mengikuti keinginan orang tua,” ungkapnya jujur.